mati

Hari ini aku melakukan perjalanan ke Parakan, setidaknya melewati Parakan. Bukan pulang, tapi melayat. Sebenarnya awalnya ketika diajak aku gak pengen ikut, tapi karena yang berangkat semua cewek, dan aku gak tega, maka aku temani. Sekalian penunjuk jalan minimal sampai candirotonya. oke maka berangkatlah kita. Dan memang tidak akan ada yang sia-sia ketika kita ikhlas. Itu yang aku lihat. Bahwa rasa capek dan ngantuk dan apa lah itu tidak sebanding dengan cerita yang aku dapat. Secara pribadi, aku belum pernah melihat proses orang meninggal, dengan mata kepala sendiri. Aku gak tau, dan saat ini aku belum pengen tau atau pun merasakannya secara langsung. Setelah mendengar cerita itu aku semakin gak pengen merasakannya, untuk saat ini.

Seorang yang meninggal ini adalah bapak temenku. Beliau sakit ginjal. Selama hidupnya tidak mau minum air putih, sukanya teh, kadang kopi, seperti itu. Secara kedokteran (meski gak begitu tahu) kurang air putih akan menyebabkan kerja ginjal menjadi berat, yang bisa merusak ginjal itu sendiri. Dan kata banyak orang bahwa ketika ginjal sudah kena, itu tidak akan sembuh. Bagian ginjal yang rusak akan merusak bagian yang lain, dan jika kedua ginjal sudah kena, ya akan sangat parah. Yang bisa dilakukan paling memperpanjang umur dengan banyak cuci darah. Setahuku cuci darah hanya dilakukan untuk mengeluarkan racun dan air yang ada dalam tubuh yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal. Itu bisa menunda kematian, hanya menunda.

Aku gak tau apa bapak temenku ini tahu masalah itu, tapi menurut cerita, beliau tidak mau cuci darah. Pernah masuk rumah sakit memang, awalnya hanya didiagnosa sakit saluran ginjal, tapi karena masih sakit juga, akhirnya dibawa ke RS lagi. Cek yang ini diketahui kalau ginjalnya sudah kena. Dikira hanya satu, tapi ternyata sudah kena dua-duanya. Maka hari-hari setelah itu selalu ada pantangan. Baik tentang makanan, atau minuman, atau gizi yang harus menjadi asupannya. Si bapak ini jadi rajin minum air putih, meski dibatasi oleh kerja ginjal. Sampai menurut cerita, sejak pertama sakit, sampai meninggal, ada waktu sampai 10 bulan. Cukup lama memang. Dan bapak ini masih bisa bersuara dengan jelas meski kadang tidak mau bicara. Beliau masih bisa berbicara dengan anak satu-satunya, masih bisa mengkhawatirkan anaknya yang mau ujian. Masih memikirkan hidup istrinya, anaknya, dan keluarganya. Masih. Hanya saja, beliau tidak mau cuci darah. Beliau bilang itu hanya memperpanjang umur saja. Beliau juga tidak ingin terlalu banyak minum obat, gak mau. Mungkin sudah tahu? who knows?

Bapak ini kritis sejak minggu pagi jam 2. si anak yang berada jauh di jogja ditelpon jam 5. padahal beliau sudah bilang tidak usah menelfon si anak. iya karena bapak itu tahu anaknya akan ujian hari seninnya. tapi karena si ibu tidak tega, tetep ditelfonnya si anak, biar melihat bapaknya. aku pikir ibunya sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres. si anak pun pasti merasa begitu ketika ditelfon. hubungan keluarga memang seperti itu. aku merasakannya sendiri. maka pulanglah si anak.

Sampai rumah, bapaknya selalu minta ditemani anaknya. Selalu meminta si anak menggenggam erat tangannya. Ketika si anak sholat dhuhur sebentar saja, langsung dicari "dia mana? dia mana?" sepertinya rasa sayang yang teramat besar akan anaknya ini yang membuat beliau bisa bertahan sampai saat itu. Menunggu anaknya pulang. karena setelah anaknya merasa ikhlas bapaknya akan diambil, barulah bapak itu meninggal. Si anak sudah merasa sangat tidak tega melihat bapaknya yang seperti itu, karena itu akhirnya dia ikhlas. Tentu saja bapaknya tidak akan tega melihat anaknya sendiri bersama ibunya, mungkin karena itu beliau masih meminta waktu di dunia, menunggu sampai keluarganya ikhlas. who knows? hanya Allah yang tahu.

Sampai saat terakhir, kedua tangan bapak dipegang erat oleh anak satu-satunya ini dan ibunya. Benar-benar terasa saat tangan bapak itu semakin dingin. Semakin dingin. Orang bilang memang ketika ruh kita akan dicabut, anggota tubuh kita dari bawah ke atas akan semakin dingin. Selain itu akan terjadi semacam kejang-kejang seperti sesak nafas. Beberapa saat sebelum itu, tubuh akan merasa tidak enak. Tidur terlentang tidak enak, sebentar-seentar ganti posisi tidak enak juga, begitu terus. Dalam istilah jawa, keadaan seperti itu dinamakan "Sakaratul Maut". Keadaan di mana ruh kita sedang dalam proses diambil. dan si anak, bercerita dengan wajah yang (bagiku) sangat jujur, mengatakan saat itu benar-benar ngeri. Membayangkan pun aku gak sanggup. Hampir meneteskan air mata. Takut. Aku takut.

Sampai saat terakhir itu, keluarga terdekat berada di sampingnya. Dengan ikhlas. Meski ada perasaan tidak percaya bahwa bapak itu sudah diambil. Ibu si anak merasa tidak ada penyesalan karena ketika sakit, jika bapak meminta apa pun, bahkan yang menjadi pantangan, semua bisa disediakan sang ibu. Banyak yang bilang, si bapak meninggal dengan cara yang cukup tenang. Menurutku karena keluarga yang sudah ikhlas, dan diri sendiri yang juga merasa begitu.

Cara meninggal setiap orang berbeda-beda, tergantung cara hidupnya. Kalau di naruto, "jalan hidup seseorang dilihat dari cara matinya". Dalam Islam, cara orang meninggal tergantung amalan dan apa yang diperbuat selama hidup. Baik untuk diri sendiri, keluarga, tetangga, teman, semua. Ketika tidak ada penyesalan, Insya Allah orang akan meninggal dengan baik. Ketika tidak ada yang masih mendendam, tidak suka dengan kita, Insya Allah meninggalnya akan tenang. karena itu berbuat baiklah. Tidak perlu mencari musuh, carilah teman yang banyak. Kalau kata One Piece, "Seseorang baru benar-benar lenyap dari dunia ini ketika tidak ada seorang pun yang mengingatnya". Maka berbuat baiklah. Ukir nama yang baik di dunia, di hati orang-orang yang kamu sayangi. Hiduplah di hati dan pikiran mereka. Seperti junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. yang akan selalu disebut namanya, bahkan sampai dunia ini kiamat. Maka berbuat baiklah. Berbuat baiklah. Jangan sampai menyesal. Nikmatilah hidup.
kita hidup di dunia ini hanya sekali, tapi jika hidup dengan benar, sekali saja cukup - no name

kosan, 11-6-2013, 23.08
ketika sangat kepikiran dengan kematian

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »